cursor

Purple Fire Pointer

Kamis, 21 November 2013

MAKALAH 5 KEMULIAAN RASULULLAH DALAM BAIT-BAIT AL-BURDAH

BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang Masalah
Yang lama musnah, masa pun berubah. Di atas puing-puing rentuhan mekarlah bunga-bunga merekah, menebarkan harum wangi kehidupan yang membuat semarak bumi allah SWT dengan kalimat dan ayat-ayat kebesarannya. Kecerahan hidup dan keceriaan suasana dalam naungan rahmat dan ridha illahi ini tak lepas dari kehadiran insan terpilih muhammad SAW, pelita dalam gulita, penerang dalam keremangan, pengenta insan dari kesesatan dan kenistaan.
Semua makhluk gembira menyambut kehadirannya, karena kerahmatan dan keberkahan tuhan terlahir bersamaan dengannya. Jika tiada engkau hai Muhammad tercipta di dunia, maka dunia seisinya tak akan terhampar di mayapada. Cahayanya menebar benderang semesta, menumbus ke lorong-lorong kehidupan, membuat terang dan kemilau kehidupan karena percikan sinar kebenaran yang di pancarkan.
Muhammad SAW lahir dalam kemiskinan materi, namun syarat dalam kemuliaan budi pekerti. Ia terlahir tanpa ayah, namun ia terkerumuni kekayaan ilahiyyah. Ia terlahir di tanah kering kerontang, tiada tetumbuhan dan pepohonan iman, yang ada hanyalah arca dan berhala garang yang siap menerkam anak-anak manusia untuk di campakan ke neraka jahannam.
Namun, berkat pribadi Rasulullah SAW yang kasih sayang dan lemah lembut, semua penderitaan itu berubah menjadi kebahagiaan yang teramat sangat. Rasulullah SAW sebagai pribadi yangberbudi luhur berakhlak mulia, selalu peduli terhadap umatnya dan ingin senatiasa berbagi rasa dengan kaum yang di bawah naungannya. Namun di balik itu beliau tegas, tegar dan bahkan keras terhadap siapapun yang  melecehkan  kalimatullah dan kebenaran agamanya.

1.2            Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah yang terdapat dalam paper ini adalah :
1.      Kemuliaan Rosulullah SAW dalam kajian bait-bait Al-Burdah.

1.3            Tujuan  Pembahasan
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka tujuan penelitian dalam paper ini adalah:
1.      Dapat mengetahui sebagian kecil kemuliaan Rasulullah SAW dalam bait-bait Al-Burdah.
1.4            Batasan  Masalah
Untuk membatasi masalah dalam paper ini, maka penulis mambatasi permasalahan ini hanya dalam pembahasan tentang mengetahui sebagian kecil kemuliaan Rosulullah SAW dalam bait-bait Al-Burdah.
1.5            Metode  Penulisan
Dalam penulisan paper ini, penulis menggunakan metode penulisan deduktif. Metode ini digunakan melalui kajian kepustakaan yang penulis tulis dari berbagai sumber.
1.6            Sistematika penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam paper ini adalah :
BAB I             PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang Masalah
1.2       Perumusan Masalah
1.3       Tujuan Penelitian
1.4       Pembatasan Masalah
1.5       Metode Penulisan
1.6       Sistematika Penulisan
BAB II            LANDASAN TEORI
2.1        Kemuliaan rosulullah SAW
2.2       Qhasidah Al-Burdah
BAB III          PEMBAHASAN
3.1       5 kemuliaan rosulullah dalam bait-bait al-burdah.
BAB IV          PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran 

BAB II
LANDASAN  TEORITIS

2.1       Kemuliaan Rasulullah SAW
            Bahwa Rasulullah SAW. Dipilih oleh allah dari rumpun yang termulia, dan dipelihara oleh allah pada masa kecilnya dan masa remajanya, sampai dipilih menjadi seorang pemberi kabar gembira dan peringatan, beliau dipelihara dan dididik sebaik-baiknya.
Firman Allah SWT      :
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚ̍ôãr&ur Ç`tã šúüÎ=Îg»pgø:$# ÇÊÒÒÈ
Artinya :
“ Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (S. Al-A’raf : 199).
* ¨bÎ) ©!$# ããBù'tƒ ÉAôyèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGƒÎ)ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# 4sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.xs? ÇÒÉÈ
Artinya :
“ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” ( S. An-Nahl : 90).




÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ
Artinya :
“ Dan bersabarlah terhadap apa yang  menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” (S. Lukman : 17).
 äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ
Artinya :
“ Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu, dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (S. An- Nahl: 125).
            Kitab suci Al-Quran adalah sumber akhlak beliau. Sa’ad bin Hisyam berkata: Aku menganggap Sayyidah ‘Aisyah danaku bertanya kepadanya tentang akhlak rosulullah SAW.
            ‘Aisyah berkata: apakah kamu membaca al-quran, aku menjawab; ya, ‘Aisyah berkata, akhlak beliau adalah al-quran.
            Bagaimana beliau tidak berada di puncak akhlak yang mulia dan kelakuan yang terpuji? Sungguh beliau di atas puncak ini, akan tetapi beliau suka menambah, sehingga dalam do’anya beliau mengucapkan:
Yang artinya :
“Ya Tuhan, sebagaimana engkau menjadikan badanku baik, maka jadikanlah pula akhlaku baik, ya tuhan jauhkanlah aku dari akhlak yang mungkar, ya tuhan tunjukanlah kepadaku akhlak yang terbaik, karena hanya engkaulah yang menunjukan kepada akhlak yang terbaik.”
            Dan beliau menghubungkan akhlak yang luhur dengan risalahnya, beliau bersabda:
Yang artinya:
“ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
            Beliau selalu menyeru kepada kaum muslimin agar mereka memiliki sifat-sifat yang utama dan menjauhi sifat-sifat yang rendah. Banyak hadits yang berhubungan dengan ini di antaranya:
1. “Sesungguhnya orang yang sangat dicintai dan sangat dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang islam, yang paling baik akhlaknya diantara kamu sekalian, suka menerima tamu, senang kepada orang dan di senangi orang.”
2. “ Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik dapat menyusul derajat orang yang puasa yang beri8ibadah di malam hari.”
3.  “ Kebahagiaan seseorang terletak pada budi pekerti yang baik.”
4. “ Sebagian besar manusia yang masuk surga ialah karena taqwa kepada allah dan berakhlak yang baik.”
5. “ Sesungguhnya kamu tidak dapat mencukupi kebutuhan manusia hanya dengan harta benda kamu saja, tetapi cukupilah mereka dengan wajahmu yang ramah dan akhlakmu yang baik.”
Rasulullah SAW. Ditanya:
Yang artinya:
“ Manakah diantara orang-orang mukmin yang paling utama imannya Beliau menjawab: ialah orang yang baik akhlaknya.”
            Dari hadits-hadits tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa sesungguhnya rosulullah SAW. Menghubungkan akhlak yang utama dengan beragama dan bertaqwa dengan hubungan yang kuat. Oleh karena itu ketika ada seorang lelaki datang kepada beliau dan berdiri dimukanya mereka bertanya, wahai rosulullah, apakah agama itu? Beliau menjawab agama itu ialah akhlak yang baik, lalu orang itu menghadap dari arah kanannya dan berkata: wahai rosulullah apakah agama itu? Beliau menjawab: agama ialah akhlak yang baik, lalu orang itu menghadap dari arah kiri dan berkata: wahai rosulullah apakah agama itu? Beliau menjawab: agama ialah agama yang baik . kemudian orang itu menghadap dari arah belakang dan berkata: Wahai rosulullah apakah agama itu? Beliau menoleh kepadanya dan berkata apakah engkau belum mengerti? Agama ialah Engkau tidak boleh marah.
            Dari hadits-hadits tersebut di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa akhlak yang buruk bisa menghapus kebajikan dan merusak ketaatan. Ada orang bertanya kepada beliau bahwa si fulan berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam hari, tetapi dia berakhlak yang buruk yaitu mengganggu tetangganya dengan lisannya, beliau menjawab orang demikian tidak baik dia termasuk ahli neraka.
            Dan beliau berkata:
Yang artinya:
“ Akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak madu.”
Beliau berkata:
“ sesungguhnya orang yang buruk akhlaknya akan berada ditingkat yang paling bawah di neraka jahannam.”
Beliau bersabda:
Yang artinya:
“ Kesialan itu ialah akhlak yang buruk.”
            Karena kegemarannya pada akhlak yang luhur beliau membebaskan seorang wanita puteri Hatim Ath-Thai’ yang menjadi tawanan hanya sebagai pembalasan kepada ayahnya yang baik budi pekertinya. Ketika wanita itu datang kepada nabi bersama para tahanan Thai’ dia berkata: Wahai muhammad kiranya engkau membebaskan diriku dan janganlah sampai sebagian orang arab bergembira karena aku ditawan. Sesungguhnya aku ini adalah puteri pemimpin kaumku dan sesungguhnya dia adalah pembela rakyatnya, suka membebaskan tawanan, suka memberi makan orang-orang yang lapar, suka memberikan makanan dan tidak pernah menolak permintaan orang-orang yang memerlukan pertolongan. Aku adalah puteri Hatim Ath-Thai’, Rasulullah SAW. Menjawab:
            Wahai gadis remaja inilah sifat-sifat orang mukmin yang sesungguhnya, sekiranya ayahmu seorang muslim maka akan aku mohonkan rahmat baginya. Bebaskanlah dia, karena ayahnya adalah seorang yang menyukai akhlak yang baik, dan sesungguhnya akllah menyukai akhlak yang baik.
            Maka berdirilah Abu Burdah bin Nayyar seraya berkata:
            Wahai rosulullah SAW. Apakah allah menyukai akhlak yang baik? Rasulullah SAW. Menjawab: Demi dzat yang menguasai diriku tidak ada yang masuk sorga kecuali orang yang baik akhlaknya.
            Rasulullah SAW. Menyukai akhlak yang baik sebagaimana kegemaran beliau kepada menyampaikan risalahnya dan taat serta taqwa kepada allah SWT. Beliau adalah suri teladan yang tinggi dalam segala sifat-sifat yang utama, oleh karena itu sudah sepantasnya beliau memperoleh pujian dari allah SWT; dalam kitab suci al-quran:
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ
Artinya:
“ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(S. Al-Qalam: 4).

Firman Allah SWT:
$yJÎ6sù 7pyJômu z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xáÎ=xî É=ù=s)ø9$# (#qÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym
Artinya:
“ maka disebabkan dari rahmat allah-lah kamu berlaku lemah-lembut kepada mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (S. Ali Imran: 159).




Firman Allah SWT:
Ixsù ãNÅ¡ø%é& $yJÎ/ tbrçŽÅÇö6è? ÇÌÑÈ $tBur Ÿw tbrçŽÅÇö6è? ÇÌÒÈ ¼çm¯RÎ) ãAöqs)s9 5Aqßu 5OƒÌx. ÇÍÉÈ
Artinya:
“ maka aku bersummpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya Al-Quran itu adalah benar-benar wahyu ( Allah yang diturunkan kepada) rasul yang mulia.” (S. Al- Haqqah: 38-40).
Allaoh SWT. Berfirman:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ
Artinya:
“ Sesungguhnya telah ada pada diri rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat alloh dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (S. Al-Ahzab: 21).
            Kiranya cukuplah penghormatan dari Allah bahwa dia bersumpah dengan umur beliau seperti yang disebutkan dalam Al-Quran:




x8ãôJyès9 öNåk¨XÎ) Å"s9 öNÍkÌEtõ3y tbqßgyJ÷ètƒ ÇÐËÈ
Artinya:
“ Demi umurmu (Muhammad) sesungguhnya mereka terombang-ambing didalam kemabukan.” (S. Al-Hijr: 72).
            Allah tidak pernah bersumpah dengan kehidupan seseorang selain nabi Muhammad SAW.
            Kiranya cukuplah bagi kita mengutip kata-kata imam ali bin abi thalib ketika memberi sifat kepada beliau: sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling pemurah, hatinya paling berani, kata-katanya paling jujur, paling menepati janji, paling baik pergaulannya, orang yang baru kenal dengan beliau akan merasa takut, dan prang yang telah bergaul dengan beliau tentu mencintainya. Maka baiklah kita mulai minum seteguk dari air sungainya yang penuh dengan budi pekerti yang luhur.

2.2                   Qhasidah Al- Burdah
            Istilah Qhasidah berasal dari bahasa arab, yang kemudian dalam bahasa indonesia di bakukan menjadi Qhasidah. Pengertian Qhasidah dalam khazanah kesusasteraan indonesia mirip dengan dengan Qhasidah yang ada dalam sastra arab. Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) dikatakan bahwa qhasidah merupakan “bentuk puisi, berasal dari kesusateraan arab, bersifat pujian (satire, keagamaan), biasanya dinyanyikan (dilagukan)” [Tim Penyusun Kamus, 1988:493]. Meskipun demikian, istilah tersebut berbeda dengan apa yang di kenal  dengan ungkapan “lagu qhasidah” yang umumnya berbahasa indoesia.
            Sebagai karya sastra arab klasik yang sangat monumental, Qhasidah burdah masih dapat diterima oleh masyarakat luas dari waktu ke waktu. Pada era globalisasi ini, Qhasidah masih menjadi pesona masyarakat sastra di sejumlah negara di lima benua. Menurut manshur [2007:7], para resepsi qhasidah ini hadir dalam berbagai tradisi yang hidup di  asia, afrika, europa, amerika serikat, dan australia. Resepsi tersebut umumnya adalah dalam bentuk karya tulis, naskah, karya lisan, rekaman, dan seni pertunjukan [performing art]. Di indonesia sendiri, qhasidah marak dikaji dii beberapa pesantren, termasuk di pondok pesantren darussalam ciamis [PPDC].
            Qhasidah burdah selalu dibaca dan ditulis ulang oleh generasi yang berganti-ganti, bukan semata karena ia populer, tetapi juga karena ekspresi spiritual yang di kandungnya, yaitu rasa rindu, cinta dan penghormatan kepada nabi, Rasa rindu, cinta dan penghormatan bersifat universal, tak terbatasi ruang dan waktu. Demikian juga rasa rindu, cinta,  dan penghormatan kepada Nabi, tidak bisa dibatasi oleh pergantian zaman. 
            Di kalangan para santri, potensi pemahaman dan penguasaan seni musik sebenarnya cukup signifikan, potensi ini dapatdi kembangkan “energi rohani” yang dapat digunakan untuk menggerakan nilai seni dan budaya. Musik dapat menjadi media pembinaan nilai-nilai karakter seseorang melalui cita rassa seni berperadaban. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk membangun kepribadian yang sehat dan kuat yaitu kepribadian religius. Dan pada gilirannya, nilai-nilai sufistik Qhasidah Burdah pun dapat ditanamkan sebagai media pembinaan yang efektif melalui syair-syair religius yang tersimpan didalamnya.
            Qhasidah Burdah adalah karya seorang penulis yang bergelar seniman dan ilmuan, bernama Imam Syaraf al-Din Abu Sa’id al-Busyiri, seorang ulama sufi, sehingga isi dari Qhasidah Burdah adalah pikiran-pikiran tenntang ajaran tasawuf. Jenis musikalitas Qhasidah Burdah, dimasukan ke dalam jenis madhchu-naby yang mengandung taranum musiqa atau senandung musik “arudly dengan bahar [wazan/segmen] al-basith menunjukan arti”terbentang/terpapar”. Ini karena memiliki jenis musik yang “memanjang datar” sehingga irama dari bait ke bait memberikan corak  yang hampir sama nada-nadanya, kecuali dalam segmen baittertentu [al-Qanna’iy, 1986:6].
            Karya al-busyiri dengan Qhasidah burdahnya telah memberikan pengaruh besar terhadap berbagai bentuk kesenian islam. Qhasidah burdah,  sebagai karya sastra arab masa lampau yang mendapat sambutan besar dari masyarakat sastra di sejumlah negara di lima benua dari abad ke abad. Kemunculan Qhasidah burdah pada masa kekuasaan dinasti mamluk, dipandang memiliki sejarah yang unik karena budaya arab pada masa itu, telah mengalami kemajuan besar pada masa sebelumnya. Kemudian pada separuh kekuasaan dinasti  mamluk, karya-karya sastra arab mengalami kemunduran secara kualitatif. Kemunculan Qhasidah burdah pada masa kemunduran ini di pandang sebagai secercah cahaya yang menyinari umat manusia yang hidup ditengah kegelapan [Manshur, 2007: 80].
            Qhasidah burdah merupakan karya sastra islam, karena mengandung cerita biografi nabi dan berisi ajaran-ajaran tasawuf yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk menjadi pijakan kehidupan spiritualnya. Sebagaimana pandangan Nasr [2003] didasarkan pada asumsi, sastra adalah cermin spiritualitas islam. Asumsi ini berimplikasi pada satu pandangan tentang islam dapat dipandang sebagai suatu budaya dan peradaban [IG.E.von Grunebaum dalam Waardenburg, 1993:87].
            Sastra islam yang berkembang di dunia arab, terutama dalam bentuk karya sastra arab berupa puisi [syair] dan prosa [natsr], telah berpengaruh kuat terhadap kelahiran Qhasidah Burdah pada abad ke 13 masehi. Sejarah sastra arab yang digunakan oleh al-Busyiri dalam Qhasidahnya.
            Kekuatan Qhasidah Burdah terletak pada pilihan kata-kata arab yang berpotensi fonisme, hingga orang yang membaca dan mendengarkannya akan mendapatkan pengalaman keindahan atau istilah jauss [1982:34] disebut fundamental experience of aesthetic.
            Al-Bushiry nama lengkapnya adalah Syaraf al-Din Muchammad bin sa’id Chammad bin Abdullah bin Shanhaji. Ia dilahirkan di Dalash,di desa Bani Yusuf pada tahun 1212 [abad ke-13]. Ayahnya keturunan Maroko, dari desa Abu Shayr. Dari kedua nama, Dalash dan Abu Shayr, muncul sebuah ungkapan ad-Dalashiry untuk nama Muhammad bin Sa’id. Akan tetapi, karena mungkin bagi orang arab ungkapan itu sulit di ucapkan dan sukar diingat, maka akhirnya ungkapan yang populer adalah al-Bushiry [Mawardi, 1994].
            Al-Bushiry adalah seorang penyair arab sekaligus sebagai sufi terkenal [Hadi, 200:42, Tottel, 1956:90] yang wafat di iskandariyah, Mesir pada tahun 1296 M dengan meninggalkan warisan Qhasidan Burdah yang dibaca di sejumlah besar masjid di mesir. Sebut saja Masjid al-Bushiry di iskandariyah, Masjid Imam Husayn, Masjid Tarekat Ja’fariyah, dan Masjid Siti Zaynab di Cairo, dan Majid Nabawi di Madinah. Di dinding masjid tersebut bait-bait Qhasidah Burdah ditempelkan [www.bbc.co.uk.2004;Manshur, 2006]
            Al-Bushiry kecil dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari al-quran dan ilmu-ilmu agama islam.Selanjutnya, al-Bushiry belajar kepada ulama-ulama yang hidup pada zamannya. Unntuk memperdalam ilmu agama dan kesusteraan Arab, ia pindah ke cairo, dan di kota inilah al-Bushiry menjadi seorang sastrawan [penyair] yang terkenal. Al-Bushiry termasuk penyair arab yang menghabiskan masa hidupnya untuk menulis puisi [Gwinn, 1990:667] dan kemahirannya di bidang sastra, khususnya puisi, telah melebihi para penyair lain pada zamannya. Selain itu, karya-karya kaligrafi al-Bushiry terkenal indah, bahkan ia memiliki keahlian dalam menyalin naskah-naskah www.amanah.or.id, Tottel 1952:90]. 
            Al-Bushiry sangat bergairah dan bersemangat mendalami ilmu-ilmu agama islam dari berbagai guru, antara lain fiqih, hadits, dan terutama tasawuf. Berkat keluasan ilmu yang dimilikinya itu, al-Bushiry akhirnya diangkat menjadi mufti [pemberi fatwa] di Mesir yang bertugas memberikan fatwa-fatwa keagamaan kepada para pejabat pemerintah.
            Kecenderungannya kepada tasawuf itulah yang mendorong al-Bushiry untuk lebih memperdalam ilmu-ilmu tasawuf kepada guru sufi yang terkenal di mesir, yaitu Abu Hasan as-syadzily yang  kemudian kepada penerusnya Abu Abbas al-Marsiy [Glasse, 1996:65]. Berdasarkan keluasan ilmunya, al-Bushiry dipandang dan dipanggil sebagai al-imam, Al-Bushiry dianggap tidak hanya sebagai ahli tasawuf tetapijuga sebagai ahli hukum [syari’ah].
            Al-Bushiry hidup dimasa transisi peralihan kekuasaan dari dinasti Ayyubiyah ke dinasti mamluk Bachry. Masa ini adalah masa pergolakan politik yang tak ada henti-hentinya, kemerosotan akhlak melanda hampir seluruh negeri, para pejjabat pemerintahan mengejar kedudukan dan kemewahan. Pada masa yang suram inilah kemudianmuncul Qhasidah Burdah sebagai reaksi terhadap situasi politik, sosial, dan budaya yang terjadi pada masa itu. Al-Bushiry menyusun Qhasidah Burdah dengan harapan umat islam bisa mencontoh kehidupan nabi dalammangendalikan hawa nafsu dan kembali kepada ajaran agama yang murni, Al-quran dan hadits www.amanah.or.id.2004.
            Pada awalnya al-Bushiry dikenal sebagai penyair istana [poet of court] yang hidup dalam kehidupan lingkungan kekuasaan Dinasti Mamluk pada abad ke-13 Masehi. Qhasidah Burdah ditulis oleh al-Bushiry kira-kira antara tahun 1260- 1268 M www.alhambraproduction.com.2003 ketika ia berusia 50 tahun.
            Al-bushiry wafat pada usia 84 tahun, yaitu pada tahun 1296 M. Al-Bushiry menghabiskan sebagian besar masa hidupnya dilingkungan istana kerajaan Mamluk di Mesir sambil menulis puisi-puisi pujian untuk nabi dan para putra mahkota kerajaan [Qaribullah: 2002].
            Akan tetapi, setelah itu, Al-Bushiry memutuskan untuk mempelajari dan mendalami tasawuf melalui bimbingan dua orang sufi besar pada zamannya, yaitu Abu Hasan As-Syadzily dan Abu Abbas al-Marsy. Setelah meninggalkan lingkungan istana danmendalami tasawuf, wibawa al-Bushiry menjadi besar, orang-orang dari berbagai penjuru negeri berdatangan kepadanya untuk mendengarkan bait-bait puisi pujiannya kepada Nabi.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1      5 KEMULIAAN ROSULULLAH DALAM BAIT AL- BURDAH
            Dalam perspektif sufistik, beberapa bait Qhasidah Al-Burdah menceritakan tentang kepribadian Nabi Muhammad SAW sebagai seorang tokoh sufi teladan yang harus dijadikan panutan umat islam. Dalam perkembangan sufisme, baik sebelum atau sesudah masa Nabi Muhammad SAW, banyak model tokoh sufi yang menawarkan konsep sufisme yang beraneka ragam, terlepas dari ajaran- ajarannya yang selaras dan tidak selaras dengan ajaran islam yang murni.
            Al- Quran menetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai uswah hasanah atau “ suri teladan yang baik” bavi siapa saja. Sosoknya adalah  teladan yang baik untuk segala hal. Siapa saja yang meneladani pribadi Nabi Muhammad SAW, maka Al- Quran menjamin orang itu berada pada jalan yang benar.
            Dalam beberapa bait sebelum lafaz “ Wa atsbatal wajdu....dst” menurut ilmu stilistika arab (ilmu balaghah) termasuk pada kategori ilmu badi’ mujarrad, dimana sang pengarang mengkomunikasikan dirinya melalui dialog yang terdapat dalam bait- bait tersebut, mengingatkan dirinya sendiri sehingga melahirkan nilai sufistik yang tinggi mengenai muhasabat al-nafs (introspeksi dan evaluasi diri) sebagai upaya meningkatkan motivasi diri.
            Berikut adalah beberapa bait yang memaparkan pribadi Nabi Muhammad SAW sebagai “tokoh sufi” teladan.

a.      Bersikap Sederhana
            Dalam perkembangan sufisme, banyak perilaku zuhud yang dipraktikan para tokoh. Tetapi dari sejumlah perilaku zuhud tersebut, masih banyak yang menyimpang dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW sangat mencintai akhirat, tetapi sikap tersebut tidak lantas membuatnya meninggalkan urusan keduniaan.
            Di zaman Nabi SAW, pernah ada sejumlah sahabat yang melakukan tindakan zuhud berlebihan, seperti tidak tidur semalaman karena sibuk ibadah, puasa setiap hari tanpa berbuka, hidup membujang sepanjang hayat, dan lain-lain. Atas perilaku sahabat ini, Nabi SAW justru memberi teguranbahwa ajaran islam tidak menghendaki cara-cara berlebihan seperti itu. Zuhud bukan berarti menghilangkan kebutuhan manusiawi, tetapi mengendalikannya sebik-baiknya.
            Dalam bait ke 29 sampai 34, sosok nabi sebagai pribadi sufi yang zuhud di tuturkan sebagai berikut:
Bait-ke 29
Transliterasi                   : [ Zhalamtu sunnatan man achyazh zhulama] (40) ila,
                                                  Anisy-takat qadamahudh dhurra min warami.
Terjemah Indonesia      : aku menzalimi abadah sunnah orang (Nabi SAW) yang menghidupkan kegelapan (malam), orang yang mengadukan deritanya (pada malam gelap itu) sehingga kakinya menjadi bengkak.
Bait-ke 30
Transliterasi                 : wa syadda min saghabin achsya-ahu wa thawa,
                                      [ Tachtal hijarati kasychan muthrafal adami](41).
Terjemah Indonesia      : Orang itu (Nabi SAW) mengikat perutnya sebab lapar, hingga ia mengikatkan batu di perutnya yang berkulit halus itu sekedar menahan laparnya.
Bait-ke 31
Transliterasi                   : Wa rawadathul jibalus syummi min zahabin,
                                      ‘An nafsihi [fa’araha ayyama syamami] (42).
Terjemah Indonesia      : Hingga gunung-gunung yang tinggi itu menawarkan diri untuk menjadi emas kepadanya (Nabi SAW). Tapi beliau tetap menolak tawaran itu.
Bait-ke 32
Transliterasi                   : Wa [akadat zuhdahu fiha dharuratuhu] (43),
                                      Innadh dharurata la ta’du ‘alal ‘ishami.
Terjemah Indonesia      :penderitaan-penderitaan itu bahkan menguatkan kezuhudannya (Nabi SAW) di dunia ini, sedangkan penderitaan-penderitaan itu baginya tidak akan mengurangi martabat dan derajatnya yang luhur.
Bait-ke 33
Transliterasi                   :  [Wa kaifa tad’u ilad dunya dharuratu man,
                                      Lau la hu lam takhrijud dunya minal ‘adami] (44).

Terjemah Indonesia      : Seperti apkah penderitaan orang itu bisa menarik dunia ini. Seandainya orang itu tiada, pasti dunia ini tiada diciptakan.


Bait-ke 34
Transliterasi                   : [Muhammadun sayyidul kaunaini wats tsaqalain,
                                      Wal fariqaini min ‘urbin wa min ‘ajami] (45). 
Terjemah Indonesia      : Yaitu Nabi Muhammad SAW yang menguasai (jadi pimpinan) dunia dan akhirat, pemimpinnya manusia dan jin, dan pemimpin bangsa Arab dan ‘Ajam (non Arab).

            Pada bait ke-29, sebuah pengakuan terungkap dengan jujur dari sang pengarang, “ Zhalamtu sunnatan man ahyazh zhalam” (aku menzhalimi ibadah sunnah orang (Nabi SAW) yang menghidupkan kegelapan (malam). Pengarang mengakui ia telah berbuat zalim karena telah meninggalkan jejak kezuhudan yang dipraktikan Nabi Muhammad SAW. Di antara praktik zuhud Nabi SAW adalah senantiasa beribadah di malam hari, disaat manusia terbuai dalam tidur yang lelap. Demikian khusuknya Nabi melakukan shalt malam, hingga beliau tak memperdulikan kakinya yang bengkak karena terlalu lama berdiri shalat. Malam adalah salah satu waktu yang utama dan mustajab (dikabulkan do’a). Di malam hari, Allah SWT begitu sangat dekat dengan hambanya yang menunaikan salat tahajud sehingga setiap do’a yang dipanjatkan akan terkabulkan. Inilah contoh zuhud yang di praktikan Nabi SAW.
Dalam bait ke-30, disebutkan contoh prilaku zuhud lainnya yang dilakukan oleh Nabi SAW “ Tahtal hijarati kasyhan muthrafal adami” ( ia mengikatkan batu diperutnya yang berkulit halus itu sekadar menahan laparnya). Menahan lapar merupakan salah satu metode zuhud. Lapar lawan dari kenyang. Bila makan terlalu kenyang, otak dan hati akan tidur, dan syahwat akan bangkit.
            Pusat syahwat berada dari perut. Menahan lapar berarti usaha mengendalikan syahwat, dan itu berarti akan memperluas kesempatan bagi otak untuk berfikir dan membuka ruang bagi hati untuk merasa. Nabi SAW rela melilitkan batu di perutnya untuk menahan perihnya rasa lapar, sehingga kelaparan itu tidak mengganggu ibadahnya kepada Allah SWT.
            Pada bait-ke 31 sampai baik ke-34, terkandung makna yang menjelaskan totalitas zuhud dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. [fa-araha ayyama syamami] (beliau tetap menolak tawaran itu), [akkadat zuhdahu fiha dharuratuhu] (Penderitaan-penderitaan itu bahkan menguatkan kezuhudannya (Nabi SAW), [Wa kaifa tad’u ilad dunya dharuratu man, lau la hu lam takhrujid dunya minal ‘adami] (seperti apakah penderitaan orang itu bisa menarik dunia ini. Seandainya orang itu tiada, pasti dunia ini tiada di ciptakan), dan [muhammadun sayyidul kaunaini wats tsaqalain, Wal fariqaini min ‘urbin wa min ‘ajami] (Yaitu Nabi Muhammad SAW yang menguasai (jadi pimpinan) dunia dan akhirat, pemimpinnya manusia dan jin, dan pemimpin bangsa Arab dan ‘ajam (non Arab).
            Keempat bait ini menjelaskan tingkat zuhud Nabi SAW yang sangat tinggi. Tingkat zuhud tidak dapat dikatakan sudah sangat tinggi, kecuali bila telah melampaui ujian yang maha berat. Ujian yang di berikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah berupa tawaran seisi alam dunia yang nilai materinya tentu sangat tinggi, ditambah status beliau yang melebihi semua makhluk sehingga dapat mengendalikan dunia mereka.
            Tetapi  Nabi SAW tetap menolaknya, dia tidak terpikat dengan keindahan dan kekayaan dunia. Sementara statusnya sebagai makhluk terbaik di dunia dan di akhirat tak membuatnya lupa diri. Nabi SAW tetap memilih sikap zuhud, meninggalkan hal-hal yang bernilai duniawi berupa harta dan kekuasaan, serta rela menempuh penderitaan dan pengorbanan sebagai bekal di akhirat. Ini adalah contoh terbaik bagaimana sikap zuhud seharusnya dilakukan.


b.      Pribadi Paripurna
            Taqwa berasal dari kata waqa-yaqy-wiqayatan yang berarti “ menjaga, melindungi, memperbaiki, takut, waspada, dan berhati-hati”. Dalam konteks sufistik, taqwa berarti “upaya untuk mematuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya”.
            Sufi adalah orang yang menyadari status dirinya sebagai hamba Allah SWT. Perintah dan larangan Allah SWT terhadap semua makhluk bertujuan agar tercipta keteraturan dan keharmonisan hidup di dunia dan di akhirat. Dengan ketaqwaan, keteraturan hidup tidak hanya tercipta dalam tataran  individual, tetapi juga dalam dimensi sosial yang lebih luas.
            Nilai sufistik tentang taqwa dan terdapat dalam bait berikut:
Bait ke-35
Transliterasi                   : [Nabiyyatul amirun nahi fa la ahadun,
                                      Abarra fi qauli la minhu wa la na’ami] (46).
Terjemah Indonesia      : Nabi kita (Nabi SAW) yang selalu memerintahkan (kebaikan) dan selalu mencegah (dari kemungkaran). Maka tiada seorangpun yang lebih baik dalam perkataan dan perbuatan dibanding dengan beliau.
            Pada bait ke-35, taqwa terkandung dalam kalimat [Nabiyyunal amirun nahi fa la ahadun, Abbarrafi qawli la minhu wa la na amin] (Nabi kita)  (Muhammad SAW) yang selalu memerintahkan (kebaikan) dan selalu mencegah (dari kemungkaran). Makatiada seorang pun yang lebih baik dalam perkataan dan perbuatan dibanding dengan beliau).
            Takwa merupakan sikap yang senantiasa diperintahkan oleh Nabi SAW kepada umatnya. Nabi sendiri merupakan sosok yang telah memperlihatkan nilai ketaqwaan dalam tingkatnya yang paripurna. Namun yang paling disesalkan, ada sebagian umatnya yang terlalu berlebihan dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT, sehingga perbuatanya itu melanggar batas-batas fitrah manusia. Padahal, ketaqwaan yang diperaktikan Nabi SAW adalah ketaatan yang tidak melewati ambang batas kewajaran sebagai manusia.

c.       Sebagai Kekasih Allah  
            Nabi Muhammad SAW mendapatkan posisi terhormat sebagai habib (kekasih) Allaoh dan umatnya. Rasa cinta umat islam kepada beliau bersumber dari karakter nabi SAW yang selalu menebarkan cinta kasih kepada siapapun, baik kepad Allah SWT, sesama manusia, maupun makhluk lainnya. Status habib (kekasih) merupakn pantulan (feedback) dari kesempurnaan akhlak Nabi SAW.
            Seorang sufi sejati, tidak semata mementingkan nilai sufistik secara individual, tetapi juga menyertainya dengan nilai sufistik sosial.

Bait ke-36
Transliterasi                   : [Huwaal habib ul ladzi turja syafa’atuhu,
                                      Abarra fi qauli la minhu wa la na’ami] (47).
Terjemah Indonesia      : beliau adalah kekasih yang selalu dinanti dan diharapkan syafa’atnya (pertolongannya) dari segala malapetaka yang menimpa.
            Pada bait ke-36, Nabi SAW digambarkan sebagai [huwal habib] (beliau adalah kekasih), artinya sebagai pribadi yang selalu dicintai. Selama hidupnya, Nabi SAW selalu mengasihi sesama manusia, bahkan terhadap musuhnya sekalipun. Dalam sebuah hadits dikisahkan, Nabi SAW pernah mengunjungi orang yang sakit, padahal dia sebelumnya selalu menyakiti nabi SAW. Rasa cinta kasih beliau telah menghapus segenap rasa dendam walaupun terhadap orang yang pernah menzalimi bbeliau. Bahkan dalam keadaan perang sekalipun, sebagai panglima perang tertinggi, Nabi SAW tetap memerintahkan pasukannya untuk tidak menyakiti musuh yang telah kalah menyerah, tidak mengusik orang-orang kafir yang tidak ikut berperang, serta tidak menganiaya anak-anak dan wanita kafir. Bahkan Nabi menyerukan agar tidak merusak infrastruktur sosial ekonomi orang kafir seperti lahan perkebunan, pepohonan dan lain-lain. Hal ini mencerminkan pribadi Nabi sebagai orang yang selalu mencintai dan dicintai oleh Allah dan umatnya.

           
d.      Sebagai Penjabar Al-Quran
            Yang dimaksud dengan hablillah (tali Allah) tiada lain adalah Al-Quran. Jadi, konsep i’tisham bi hablillah berarti memegang teguh ajaran-ajaran Allah yang tterdapat di dalam Al-Quran. Seorang sufi sejati memiliki sikap dan tingkah laku yang tidak keluar jalur dari jalan Allah SWT. Agar berada di jalan Allah, maka umat Islam tinggal mengikuti apa yang telah secara konkrit dilakukan oleh Nabi SAW. I’tisham bi hablillah adalah spirit untuk memberi solusi terhadap instabilitas kehidupan manusia yang jauh dari tuntunan illahi.
           
Nilai sufistik tentang I’tisham bi hablillah terdapat dalam bait berikut:

Bait ke-37
Transliterasi                   : [Da’a ilallahi fal mustamsikuna bih,
                                      Mustamsikuna bi hablin ghaira munfashimi] (48).
Terjemah Indonesia      : Beliau Nabi SAW mengajak kepada (agama) Allah dan beliau berpegang teguh padanya, (bagaikan) berpegang teguh pada tali (ikatan) yang tak putus.
           
            Dalam bait tersebut, terdapat lafadz mustamsikuna bihi yang berarti orang-orang yang berpegang teguh terhadap agama Allah SWT, yakni islam. Rasulullas SAW di utus oleh Allah SWT ke muka bumi ini untuk mengajak umat manusia berpegang teguh kepada agama Allah SWT, yaitu islam. Barang siapa yang berpegang teguh kepada islam; yakni menjalankan segala perintah nya dan menjauhi segala larangannya, berarti dia memiliki pegangan yang kuat dan sulit untuk dilepaskan.
            Sebagai teladan terbaik, Nabi Muhammad SAW mengajak seluruh umat manusia, terlebih kepada umatnya, untuk senantiasa melakukan kebaikan dan menebarkan perdamaian. Bila seruannya itu di tunaikan oleh umatnya, maka ketentraman dan keberhasilan dalam hiduppun akan tercapai. Demikian pula beliau selalu mencegah dan melarang berbuat kerusakan, baik kerusakan yang akan berdampak di dunia ini maupun yang akan terjadi di akhirat kelak. Kekuasaan umumnya selalu mendorong manusia untuk bersikap sombong, dan angkuh. Namun tidak demikian halnya dengan Nabi, meskipun memiliki kekuasaan yang sangat luas, beliau selalu menunjukan sikap rendah hati yang ramah terhadap sesama manusia.

e.       Pandai Berserah Diri
            Tawakkal berasal dari kata tawakkala- yatawakkalu- tawakkulan yang berarti “ mewakilkan atau menyerahkan sesuatu urusan kepada selain dirinya”. Dalam ruang lingkup ajaran sufistik, tawakkal berarti “ menyerahkan segenap urusan pribadinya kepada Allah SWT setelah melakukan usaha yang optimal (ikhtiar)”.
            Setelah berikhtiar, seorang sufi sejati selalu berserah diri kepada Allah SWT. Sufi sejati selalu byakin bahwa hanya Allah-lah yang akan menentukan hasil akhir dari semua usaha yang telah ia curahkan. Tawakkal merupakan rangkaian akhir dari ikhtiar (optimalisasi diri) dan merupakan sebuahh sikap husnuzhan (berbaik sangka) terhadap Allah SWT.
            Pribabi Nabi SAW yang tawakkal kepada Allah secara implisit terdapat dalam bait ke-77:

Bait ke-77 
Transliterasi                   : [ Fash-shidqu fil ghari wash-shidqu lam yari,
                                      Wa hum yaquluna ma bil ghari min arami] (49).
Terjemah Indonesia      : adapun orang yang benar (Nabi SAW) dan yang membenarkan (Abu Bakar AS) di dalam gua tiada pergi, tetapi orang-orang kafir berkata bahwa didalam gua itu tiada seorang pun yang tinggal.
            Dalam bait tersebut digambarkan sekelumit peristiwa yang terjadi saat Nabi SAW hijrah ke Yatsrib (Madinah), dittemani Abu Bakar As-Shiddiq. Pada saat hijrah, status Nabi Muhammad SAW adalah “ buronan” kaum kafir Quraisy. Para pemuka Quraisy menyerukan untuk menangkap nabi, hidup atau mati. Ini merupakan bentuk konspirasi orang kafir untuk menghapus ajaran Islam dan pimpinannya.
            Konspirasi yang melibatkan semua kabillah Mekkah ini tentu saja menyulitkan nabi untuk dapat selamat dari kejaran mereka. Namun, Nabi Muhammad SAW tetap berikhtiar untuk bisa keluar dari rumahnya untuk berhijrah. Dengan sebuah strategi ikhtiar yang penuh perhittungan, bersama Abu Bakar, nabi hijrah ke Madinah dengan menempuh jalur yang tidak biasa di tempuh ole suku Quraisy.
            Dalam perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk tinggal sebentar di gua Tsur yang terletak di selatan Mekkah. Ini dilakukan untuk mengecoh perhatian mereka. Tetapi ikhtiar ini pun akhirnya terbaca oleh suku Quraisy , sehingga mereka mengejar Nabi Muhammad SAW sampai ke gua Tsur. Saat ada beberapa orang Quraisy yang tiba menghampiri mulut gua tersebut, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar pun berserah diri kepada Allah SWt akan nasib hidup mereka berdua dengan mengatakan: “ ...innallaha ma’ana (sesungguhnya tuhan bersama kita).
            Kemudian Allah SWT pun mematahkan logika orang kafir dengan menghadirkan laba-laba yang sedang tenang diam di jaring-jaring yang di buatnya, dan burung merpati yang sedang diam di sarangnya dengan tenang di  mulut gua tersebut. Dengan kehadiran dua makhluk tersebut, orang kafir yang berada di mulut gua pun terkecoh, mereka berfikir tidak mungkin nabi Muhammad SAW dan Abu bakar ada di dalam gua.
           
BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Dari uraian-uraian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa Rasulullah SAW mepunyai 5 kemulian, yaitu :
1.      Bersikap sederhana, sifat tersebut terdapat pada bait ke 29 sampai 34, sosok nabi sebagai pribadi sufi yang zuhud di tuturkan sebagai berikut:
Bait-ke 29
Transliterasi                   : [ Zhalamtu sunnatan man achyazh zhulama] (40) ila,
                                                  Anisy-takat qadamahudh dhurra min warami.
Terjemah Indonesia      : aku menzalimi abadah sunnah orang (Nabi SAW) yang menghidupkan kegelapan (malam), orang yang mengadukan deritanya (pada malam gelap itu) sehingga kakinya menjadi bengkak.
Bait-ke 30
Transliterasi                 : wa syadda min saghabin achsya-ahu wa thawa,
                                      [ Tachtal hijarati kasychan muthrafal adami](41).
Terjemah Indonesia      : Orang itu (Nabi SAW) mengikat perutnya sebab lapar, hingga ia mengikatkan batu di perutnya yang berkulit halus itu sekedar menahan laparnya.
Bait-ke 31
Transliterasi                   : Wa rawadathul jibalus syummi min zahabin,
                                      ‘An nafsihi [fa’araha ayyama syamami] (42).
Terjemah Indonesia      : Hingga gunung-gunung yang tinggi itu menawarkan diri untuk menjadi emas kepadanya (Nabi SAW). Tapi beliau tetap menolak tawaran itu.
Bait-ke 32
Transliterasi                   : Wa [akadat zuhdahu fiha dharuratuhu] (43),
                                      Innadh dharurata la ta’du ‘alal ‘ishami.
Terjemah Indonesia      :penderitaan-penderitaan itu bahkan menguatkan kezuhudannya (Nabi SAW) di dunia ini, sedangkan penderitaan-penderitaan itu baginya tidak akan mengurangi martabat dan derajatnya yang luhur.
Bait-ke 33
Transliterasi                   :  [Wa kaifa tad’u ilad dunya dharuratu man,
                                      Lau la hu lam takhrijud dunya minal ‘adami] (44).

Terjemah Indonesia      : Seperti apkah penderitaan orang itu bisa menarik dunia ini. Seandainya orang itu tiada, pasti dunia ini tiada diciptakan.
Bait-ke 34
Transliterasi                   : [Muhammadun sayyidul kaunaini wats tsaqalain,
                                      Wal fariqaini min ‘urbin wa min ‘ajami] (45). 
Terjemah Indonesia      : Yaitu Nabi Muhammad SAW yang menguasai (jadi pimpinan) dunia dan akhirat, pemimpinnya manusia dan jin, dan pemimpin bangsa Arab dan ‘Ajam (non Arab).

2.      Pribadi Paripurna, sifat tersebut terdapat pada bait ke 35 yang menceritakan tentang taqwa dan terdapat dalam bait berikut:
Bait ke-35
Transliterasi                   : [Nabiyyatul amirun nahi fa la ahadun,
                                      Abarra fi qauli la minhu wa la na’ami] (46).
Terjemah Indonesia           : Nabi kita (Nabi SAW) yang selalu memerintahkan (kebaikan) dan selalu mencegah (dari kemungkaran). Maka tiada seorangpun yang lebih baik dalam perkataan dan perbuatan dibanding dengan beliau.

3.      Sebagai Kekasih Allah SWT, hal ini terdapat pada bait ke 36, sebagai berikut:
            Bait ke-36
Transliterasi                   : [Huwaal habib ul ladzi turja syafa’atuhu,
                                      Abarra fi qauli la minhu wa la na’ami] (47).
Terjemah Indonesia      : beliau adalah kekasih yang selalu dinanti dan diharapkan syafa’atnya (pertolongannya) dari segala malapetaka yang menimpa.


4.      Sebagai penjabar Al-Quran, hal ini terdapat pada bait ke 37, Nilai sufistik tentang I’tisham bi hablillah terdapat dalam bait berikut:

Bait ke-37
Transliterasi                   : [Da’a ilallahi fal mustamsikuna bih,
                                      Mustamsikuna bi hablin ghaira munfashimi] (48).
Terjemah Indonesia      : Beliau Nabi SAW mengajak kepada (agama) Allah dan beliau berpegang teguh padanya, (bagaikan) berpegang teguh pada tali (ikatan) yang tak putus.

5.      Pandai berserah diri, hal ini terdapat pada bait ke 77, Pribabi Nabi SAW yang tawakkal kepada Allah secara implisit terdapat dalam bait berikut:

Bait ke-77 
Transliterasi                   : [ Fash-shidqu fil ghari wash-shidqu lam yari,
                                      Wa hum yaquluna ma bil ghari min arami] (49).
Terjemah Indonesia      : adapun orang yang benar (Nabi SAW) dan yang membenarkan (Abu Bakar AS) di dalam gua tiada pergi, tetapi orang-orang kafir berkata bahwa didalam gua itu tiada seorang pun yang tinggal.

B.   Saran
1)   Dengan pemaparan yang telah di jelaskan di atas, hendaknya para pembaca untuk mencontoh pribadi Rasulullah SAW, dengan selalu mengingatnya dan memcakan shalawat setiap waktu.
2)   Janganlah pembaca merasa puas dengan hanya membaca tulisan ini, karena masih banyak permasalahan yang belum termuat dalam paper ini.
3)   Sebaiknya pembaca meneliti lebih jauh lagi pembahasan ini dengan membaca refarensi-refensi yang lain yang lebih lengkap.


DAFTAR PUSTAKA


Ainusyamsi, Fadlil Yani, 2011, Terapi Musik Sufistik Menyerap Energi Positif Shalawat Burdah: Ciamis, PT Semesta Rakyat Merdeka.

Al- Hufy, Ahmad Muhammad, 1995, Akhlak Nabi Muhammad SAW, Keluhuran Dan Kemuliaannya: Bandung, Gema Risalah Press.

RIWAYAT HIDUP

          Dilahirkan di Ciamis, 28 Juli 1994 dengan nama Bayu Alif Ahmad Yasin Hanifatulloh dari pasangan Bapak Asep Parhanil Ibad, S. Ag dan Ibu Nurfatihah. Penulis memulai kehidupannya di lingkungan pedesaan yang kental dengan suasana agamis. Sejak kecil menyukai kegiatan yang berhubungan dengan olahraga.
Adapun riwayat pendidikannya :
-     Taman Kanak- Kanak Al- Ikhlas, Bandung (2000)
-     Sekolah Dasar Negeri Pelita 2, Bandung (2000-2006)
-     Sekolah Menengah Pertama Plus Al-Aqsha, Sumedang ( 2006-2009)
-     Madrasah Aliyah Negri Darussalam, Ciamis (2009-2012)
-     Institut Agama Islam Darussalam, Ciamis (2012-sekarang)

Adapun riwayat keorganisasiannya :
-     Brigade Al-Ismul Adzam Pondok Pesantren Darussalam
-     Bagian bahasa MALTA periode 2010- 2011
-     Anggota Darussalam football Club (DFC)