BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Yang lama musnah, masa pun berubah. Di atas puing-puing
rentuhan mekarlah bunga-bunga merekah, menebarkan harum wangi kehidupan yang
membuat semarak bumi allah SWT dengan kalimat dan ayat-ayat kebesarannya. Kecerahan
hidup dan keceriaan suasana dalam naungan rahmat dan ridha illahi ini tak lepas
dari kehadiran insan terpilih muhammad SAW, pelita dalam gulita, penerang dalam
keremangan, pengenta insan dari kesesatan dan kenistaan.
Semua makhluk gembira menyambut kehadirannya, karena
kerahmatan dan keberkahan tuhan terlahir bersamaan dengannya. Jika tiada engkau
hai Muhammad tercipta di dunia, maka dunia seisinya tak akan terhampar di
mayapada. Cahayanya menebar benderang semesta, menumbus ke lorong-lorong kehidupan,
membuat terang dan kemilau kehidupan karena percikan sinar kebenaran yang di
pancarkan.
Muhammad SAW lahir dalam kemiskinan materi, namun syarat
dalam kemuliaan budi pekerti. Ia terlahir tanpa ayah, namun ia terkerumuni
kekayaan ilahiyyah. Ia terlahir di tanah kering kerontang, tiada tetumbuhan dan
pepohonan iman, yang ada hanyalah arca dan berhala garang yang siap menerkam
anak-anak manusia untuk di campakan ke neraka jahannam.
Namun, berkat pribadi Rasulullah SAW yang kasih sayang
dan lemah lembut, semua penderitaan itu berubah menjadi kebahagiaan yang
teramat sangat. Rasulullah SAW sebagai pribadi yangberbudi luhur berakhlak
mulia, selalu peduli terhadap umatnya dan ingin senatiasa berbagi rasa dengan
kaum yang di bawah naungannya. Namun di balik itu beliau tegas, tegar dan
bahkan keras terhadap siapapun yang
melecehkan kalimatullah dan
kebenaran agamanya.
1.2
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah
yang terdapat dalam paper ini adalah :
1.
Kemuliaan Rosulullah SAW dalam
kajian bait-bait Al-Burdah.
1.3
Tujuan Pembahasan
Berdasarkan perumusan
masalah diatas maka tujuan penelitian dalam paper ini adalah:
1.
Dapat mengetahui sebagian
kecil kemuliaan Rasulullah SAW dalam bait-bait Al-Burdah.
1.4
Batasan Masalah
Untuk membatasi masalah dalam paper ini, maka penulis
mambatasi permasalahan ini hanya dalam pembahasan tentang mengetahui sebagian
kecil kemuliaan Rosulullah SAW dalam bait-bait Al-Burdah.
1.5
Metode Penulisan
Dalam penulisan paper ini, penulis menggunakan metode
penulisan deduktif. Metode ini digunakan melalui kajian kepustakaan yang
penulis tulis dari berbagai sumber.
1.6
Sistematika penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam paper ini adalah :
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
1.2 Perumusan
Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Pembatasan
Masalah
1.5 Metode
Penulisan
1.6 Sistematika
Penulisan
BAB II LANDASAN TEORI
2.1
Kemuliaan rosulullah SAW
2.2 Qhasidah
Al-Burdah
BAB III PEMBAHASAN
3.1 5
kemuliaan rosulullah dalam bait-bait al-burdah.
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1 Kemuliaan Rasulullah SAW
Bahwa Rasulullah SAW. Dipilih oleh allah dari rumpun yang
termulia, dan dipelihara oleh allah pada masa kecilnya dan masa remajanya,
sampai dipilih menjadi seorang pemberi kabar gembira dan peringatan, beliau
dipelihara dan dididik sebaik-baiknya.
Firman Allah SWT :
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚÌôãr&ur Ç`tã úüÎ=Îg»pgø:$# ÇÊÒÒÈ
Artinya :
“ Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang mengerjakan
yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (S. Al-A’raf :
199).
* ¨bÎ) ©!$# ããBù't ÉAôyèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGÎ)ur Ï 4n1öà)ø9$# 4sS÷Ztur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# Ìx6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏèt öNà6¯=yès9 crã©.xs? ÇÒÉÈ
Artinya :
“ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan
berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” ( S. An-Nahl : 90).
÷É9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºs ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ
Artinya :
“ Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” (S. Lukman : 17).
äí÷$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ
Artinya :
“ Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu, dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (S. An- Nahl:
125).
Kitab
suci Al-Quran adalah sumber akhlak beliau. Sa’ad bin Hisyam berkata: Aku
menganggap Sayyidah ‘Aisyah danaku bertanya kepadanya tentang akhlak rosulullah
SAW.
‘Aisyah
berkata: apakah kamu membaca al-quran, aku menjawab; ya, ‘Aisyah berkata,
akhlak beliau adalah al-quran.
Bagaimana
beliau tidak berada di puncak akhlak yang mulia dan kelakuan yang terpuji?
Sungguh beliau di atas puncak ini, akan tetapi beliau suka menambah, sehingga
dalam do’anya beliau mengucapkan:
Yang artinya :
“Ya Tuhan, sebagaimana engkau menjadikan badanku baik,
maka jadikanlah pula akhlaku baik, ya tuhan jauhkanlah aku dari akhlak yang
mungkar, ya tuhan tunjukanlah kepadaku akhlak yang terbaik, karena hanya
engkaulah yang menunjukan kepada akhlak yang terbaik.”
Dan
beliau menghubungkan akhlak yang luhur dengan risalahnya, beliau bersabda:
Yang artinya:
“ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan
akhlak.”
Beliau
selalu menyeru kepada kaum muslimin agar mereka memiliki sifat-sifat yang utama
dan menjauhi sifat-sifat yang rendah. Banyak hadits yang berhubungan dengan ini
di antaranya:
1. “Sesungguhnya orang yang sangat dicintai dan sangat
dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang islam, yang paling baik akhlaknya
diantara kamu sekalian, suka menerima tamu, senang kepada orang dan di senangi
orang.”
2. “ Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang
baik dapat menyusul derajat orang yang puasa yang beri8ibadah di malam hari.”
3. “ Kebahagiaan
seseorang terletak pada budi pekerti yang baik.”
4. “ Sebagian besar manusia yang masuk surga ialah karena
taqwa kepada allah dan berakhlak yang baik.”
5. “ Sesungguhnya kamu tidak dapat mencukupi kebutuhan
manusia hanya dengan harta benda kamu saja, tetapi cukupilah mereka dengan
wajahmu yang ramah dan akhlakmu yang baik.”
Rasulullah SAW. Ditanya:
Yang artinya:
“ Manakah diantara orang-orang mukmin yang paling utama
imannya Beliau menjawab: ialah orang yang baik akhlaknya.”
Dari
hadits-hadits tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa sesungguhnya rosulullah
SAW. Menghubungkan akhlak yang utama dengan beragama dan bertaqwa dengan
hubungan yang kuat. Oleh karena itu ketika ada seorang lelaki datang kepada
beliau dan berdiri dimukanya mereka bertanya, wahai rosulullah, apakah agama
itu? Beliau menjawab agama itu ialah akhlak yang baik, lalu orang itu menghadap
dari arah kanannya dan berkata: wahai rosulullah apakah agama itu? Beliau
menjawab: agama ialah akhlak yang baik, lalu orang itu menghadap dari arah kiri
dan berkata: wahai rosulullah apakah agama itu? Beliau menjawab: agama ialah
agama yang baik . kemudian orang itu menghadap dari arah belakang dan berkata:
Wahai rosulullah apakah agama itu? Beliau menoleh kepadanya dan berkata apakah
engkau belum mengerti? Agama ialah Engkau tidak boleh marah.
Dari
hadits-hadits tersebut di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa akhlak yang
buruk bisa menghapus kebajikan dan merusak ketaatan. Ada orang bertanya kepada
beliau bahwa si fulan berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam hari,
tetapi dia berakhlak yang buruk yaitu mengganggu tetangganya dengan lisannya,
beliau menjawab orang demikian tidak baik dia termasuk ahli neraka.
Dan
beliau berkata:
Yang artinya:
“ Akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak
madu.”
Beliau berkata:
“ sesungguhnya orang yang buruk akhlaknya akan berada
ditingkat yang paling bawah di neraka jahannam.”
Beliau bersabda:
Yang artinya:
“ Kesialan itu ialah akhlak yang buruk.”
Karena
kegemarannya pada akhlak yang luhur beliau membebaskan seorang wanita puteri
Hatim Ath-Thai’ yang menjadi tawanan hanya sebagai pembalasan kepada ayahnya
yang baik budi pekertinya. Ketika wanita itu datang kepada nabi bersama para
tahanan Thai’ dia berkata: Wahai muhammad kiranya engkau membebaskan diriku dan
janganlah sampai sebagian orang arab bergembira karena aku ditawan.
Sesungguhnya aku ini adalah puteri pemimpin kaumku dan sesungguhnya dia adalah
pembela rakyatnya, suka membebaskan tawanan, suka memberi makan orang-orang
yang lapar, suka memberikan makanan dan tidak pernah menolak permintaan
orang-orang yang memerlukan pertolongan. Aku adalah puteri Hatim Ath-Thai’,
Rasulullah SAW. Menjawab:
Wahai
gadis remaja inilah sifat-sifat orang mukmin yang sesungguhnya, sekiranya
ayahmu seorang muslim maka akan aku mohonkan rahmat baginya. Bebaskanlah dia,
karena ayahnya adalah seorang yang menyukai akhlak yang baik, dan sesungguhnya
akllah menyukai akhlak yang baik.
Maka
berdirilah Abu Burdah bin Nayyar seraya berkata:
Wahai
rosulullah SAW. Apakah allah menyukai akhlak yang baik? Rasulullah SAW.
Menjawab: Demi dzat yang menguasai diriku tidak ada yang masuk sorga kecuali
orang yang baik akhlaknya.
Rasulullah
SAW. Menyukai akhlak yang baik sebagaimana kegemaran beliau kepada menyampaikan
risalahnya dan taat serta taqwa kepada allah SWT. Beliau adalah suri teladan
yang tinggi dalam segala sifat-sifat yang utama, oleh karena itu sudah
sepantasnya beliau memperoleh pujian dari allah SWT; dalam kitab suci al-quran:
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÍÈ
Artinya:
“ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang
agung.”(S. Al-Qalam: 4).
Firman Allah SWT:
$yJÎ6sù 7pyJômu z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $àsù xáÎ=xî É=ù=s)ø9$# (#qÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym
Artinya:
“ maka disebabkan dari rahmat allah-lah kamu berlaku
lemah-lembut kepada mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (S. Ali Imran: 159).
Firman Allah SWT:
Ixsù ãNÅ¡ø%é& $yJÎ/ tbrçÅÇö6è? ÇÌÑÈ $tBur w tbrçÅÇö6è? ÇÌÒÈ ¼çm¯RÎ) ãAöqs)s9 5Aqßu 5OÌx. ÇÍÉÈ
Artinya:
“ maka aku bersummpah dengan apa yang kamu lihat dan
dengan apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya Al-Quran itu adalah benar-benar
wahyu ( Allah yang diturunkan kepada) rasul yang mulia.” (S. Al- Haqqah:
38-40).
Allaoh SWT. Berfirman:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_öt ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sur ©!$# #ZÏVx. ÇËÊÈ
Artinya:
“ Sesungguhnya telah ada pada diri rosulullah itu suri tauladan
yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat alloh dan kedatangan
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (S. Al-Ahzab: 21).
Kiranya
cukuplah penghormatan dari Allah bahwa dia bersumpah dengan umur beliau seperti
yang disebutkan dalam Al-Quran:
x8ãôJyès9 öNåk¨XÎ) Å"s9 öNÍkÌEtõ3y tbqßgyJ÷èt ÇÐËÈ
Artinya:
“ Demi umurmu (Muhammad) sesungguhnya mereka
terombang-ambing didalam kemabukan.” (S. Al-Hijr: 72).
Allah
tidak pernah bersumpah dengan kehidupan seseorang selain nabi Muhammad SAW.
Kiranya
cukuplah bagi kita mengutip kata-kata imam ali bin abi thalib ketika memberi
sifat kepada beliau: sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling pemurah,
hatinya paling berani, kata-katanya paling jujur, paling menepati janji, paling
baik pergaulannya, orang yang baru kenal dengan beliau akan merasa takut, dan
prang yang telah bergaul dengan beliau tentu mencintainya. Maka baiklah kita
mulai minum seteguk dari air sungainya yang penuh dengan budi pekerti yang
luhur.
2.2
Qhasidah Al- Burdah
Istilah
Qhasidah berasal dari bahasa arab, yang kemudian dalam bahasa indonesia di
bakukan menjadi Qhasidah. Pengertian Qhasidah dalam khazanah kesusasteraan
indonesia mirip dengan dengan Qhasidah yang ada dalam sastra arab. Dalam kamus
besar bahasa indonesia (KBBI) dikatakan bahwa qhasidah merupakan “bentuk puisi,
berasal dari kesusateraan arab, bersifat pujian (satire, keagamaan),
biasanya dinyanyikan (dilagukan)” [Tim Penyusun Kamus, 1988:493]. Meskipun
demikian, istilah tersebut berbeda dengan apa yang di kenal dengan ungkapan “lagu qhasidah” yang umumnya
berbahasa indoesia.
Sebagai karya sastra arab klasik yang sangat
monumental, Qhasidah burdah masih dapat diterima oleh masyarakat luas dari
waktu ke waktu. Pada era globalisasi ini, Qhasidah masih menjadi pesona
masyarakat sastra di sejumlah negara di lima benua. Menurut manshur [2007:7],
para resepsi qhasidah ini hadir dalam berbagai tradisi yang hidup di asia, afrika, europa, amerika serikat, dan
australia. Resepsi tersebut umumnya adalah dalam bentuk karya tulis, naskah,
karya lisan, rekaman, dan seni pertunjukan [performing art]. Di indonesia
sendiri, qhasidah marak dikaji dii beberapa pesantren, termasuk di pondok
pesantren darussalam ciamis [PPDC].
Qhasidah
burdah selalu dibaca dan ditulis ulang oleh generasi yang berganti-ganti, bukan
semata karena ia populer, tetapi juga karena ekspresi spiritual yang di
kandungnya, yaitu rasa rindu, cinta dan penghormatan kepada nabi, Rasa rindu,
cinta dan penghormatan bersifat universal, tak terbatasi ruang dan waktu.
Demikian juga rasa rindu, cinta, dan
penghormatan kepada Nabi, tidak bisa dibatasi oleh pergantian zaman.
Di
kalangan para santri, potensi pemahaman dan penguasaan seni musik sebenarnya
cukup signifikan, potensi ini dapatdi kembangkan “energi rohani” yang dapat
digunakan untuk menggerakan nilai seni dan budaya. Musik dapat menjadi media
pembinaan nilai-nilai karakter seseorang melalui cita rassa seni berperadaban.
Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk membangun kepribadian yang sehat dan
kuat yaitu kepribadian religius. Dan pada gilirannya, nilai-nilai sufistik
Qhasidah Burdah pun dapat ditanamkan sebagai media pembinaan yang efektif
melalui syair-syair religius yang tersimpan didalamnya.
Qhasidah
Burdah adalah karya seorang penulis yang bergelar seniman dan ilmuan, bernama
Imam Syaraf al-Din Abu Sa’id al-Busyiri, seorang ulama sufi, sehingga isi dari
Qhasidah Burdah adalah pikiran-pikiran tenntang ajaran tasawuf. Jenis
musikalitas Qhasidah Burdah, dimasukan ke dalam jenis madhchu-naby yang
mengandung taranum musiqa atau senandung musik “arudly dengan bahar
[wazan/segmen] al-basith menunjukan arti”terbentang/terpapar”. Ini
karena memiliki jenis musik yang “memanjang datar” sehingga irama dari bait ke
bait memberikan corak yang hampir sama
nada-nadanya, kecuali dalam segmen baittertentu [al-Qanna’iy, 1986:6].
Karya
al-busyiri dengan Qhasidah burdahnya telah memberikan pengaruh besar terhadap
berbagai bentuk kesenian islam. Qhasidah burdah, sebagai karya sastra arab masa lampau yang
mendapat sambutan besar dari masyarakat sastra di sejumlah negara di lima benua
dari abad ke abad. Kemunculan Qhasidah burdah pada masa kekuasaan dinasti
mamluk, dipandang memiliki sejarah yang unik karena budaya arab pada masa itu,
telah mengalami kemajuan besar pada masa sebelumnya. Kemudian pada separuh
kekuasaan dinasti mamluk, karya-karya
sastra arab mengalami kemunduran secara kualitatif. Kemunculan Qhasidah burdah
pada masa kemunduran ini di pandang sebagai secercah cahaya yang menyinari umat
manusia yang hidup ditengah kegelapan [Manshur, 2007: 80].
Qhasidah
burdah merupakan karya sastra islam, karena mengandung cerita biografi nabi dan
berisi ajaran-ajaran tasawuf yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk menjadi
pijakan kehidupan spiritualnya. Sebagaimana pandangan Nasr [2003] didasarkan
pada asumsi, sastra adalah cermin spiritualitas islam. Asumsi ini berimplikasi
pada satu pandangan tentang islam dapat dipandang sebagai suatu budaya dan
peradaban [IG.E.von Grunebaum dalam Waardenburg, 1993:87].
Sastra
islam yang berkembang di dunia arab, terutama dalam bentuk karya sastra arab
berupa puisi [syair] dan prosa [natsr], telah berpengaruh kuat
terhadap kelahiran Qhasidah Burdah pada abad ke 13 masehi. Sejarah sastra arab
yang digunakan oleh al-Busyiri dalam Qhasidahnya.
Kekuatan
Qhasidah Burdah terletak pada pilihan kata-kata arab yang berpotensi fonisme,
hingga orang yang membaca dan mendengarkannya akan mendapatkan pengalaman
keindahan atau istilah jauss [1982:34] disebut fundamental experience of
aesthetic.
Al-Bushiry
nama lengkapnya adalah Syaraf al-Din Muchammad bin sa’id Chammad bin Abdullah
bin Shanhaji. Ia dilahirkan di Dalash,di desa Bani Yusuf pada tahun 1212 [abad
ke-13]. Ayahnya keturunan Maroko, dari desa Abu Shayr. Dari kedua nama, Dalash
dan Abu Shayr, muncul sebuah ungkapan ad-Dalashiry untuk nama Muhammad bin
Sa’id. Akan tetapi, karena mungkin bagi orang arab ungkapan itu sulit di
ucapkan dan sukar diingat, maka akhirnya ungkapan yang populer adalah
al-Bushiry [Mawardi, 1994].
Al-Bushiry
adalah seorang penyair arab sekaligus sebagai sufi terkenal [Hadi, 200:42,
Tottel, 1956:90] yang wafat di iskandariyah, Mesir pada tahun 1296 M dengan
meninggalkan warisan Qhasidan Burdah yang dibaca di sejumlah besar masjid di
mesir. Sebut saja Masjid al-Bushiry di iskandariyah, Masjid Imam Husayn, Masjid
Tarekat Ja’fariyah, dan Masjid Siti Zaynab di Cairo, dan Majid Nabawi di
Madinah. Di dinding masjid tersebut bait-bait Qhasidah Burdah ditempelkan [www.bbc.co.uk.2004;Manshur, 2006]
Al-Bushiry
kecil dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari al-quran dan ilmu-ilmu
agama islam.Selanjutnya, al-Bushiry belajar kepada ulama-ulama yang hidup pada
zamannya. Unntuk memperdalam ilmu agama dan kesusteraan Arab, ia pindah ke
cairo, dan di kota inilah al-Bushiry menjadi seorang sastrawan [penyair] yang
terkenal. Al-Bushiry termasuk penyair arab yang menghabiskan masa hidupnya
untuk menulis puisi [Gwinn, 1990:667] dan kemahirannya di bidang sastra,
khususnya puisi, telah melebihi para penyair lain pada zamannya. Selain itu,
karya-karya kaligrafi al-Bushiry terkenal indah, bahkan ia memiliki keahlian
dalam menyalin naskah-naskah www.amanah.or.id, Tottel 1952:90].
Al-Bushiry
sangat bergairah dan bersemangat mendalami ilmu-ilmu agama islam dari berbagai
guru, antara lain fiqih, hadits, dan terutama tasawuf. Berkat keluasan ilmu
yang dimilikinya itu, al-Bushiry akhirnya diangkat menjadi mufti [pemberi
fatwa] di Mesir yang bertugas memberikan fatwa-fatwa keagamaan kepada para
pejabat pemerintah.
Kecenderungannya
kepada tasawuf itulah yang mendorong al-Bushiry untuk lebih memperdalam
ilmu-ilmu tasawuf kepada guru sufi yang terkenal di mesir, yaitu Abu Hasan
as-syadzily yang kemudian kepada
penerusnya Abu Abbas al-Marsiy [Glasse, 1996:65]. Berdasarkan keluasan ilmunya,
al-Bushiry dipandang dan dipanggil sebagai al-imam, Al-Bushiry dianggap
tidak hanya sebagai ahli tasawuf tetapijuga sebagai ahli hukum [syari’ah].
Al-Bushiry
hidup dimasa transisi peralihan kekuasaan dari dinasti Ayyubiyah ke dinasti
mamluk Bachry. Masa ini adalah masa pergolakan politik yang tak ada
henti-hentinya, kemerosotan akhlak melanda hampir seluruh negeri, para pejjabat
pemerintahan mengejar kedudukan dan kemewahan. Pada masa yang suram inilah
kemudianmuncul Qhasidah Burdah sebagai reaksi terhadap situasi politik, sosial,
dan budaya yang terjadi pada masa itu. Al-Bushiry menyusun Qhasidah Burdah
dengan harapan umat islam bisa mencontoh kehidupan nabi dalammangendalikan hawa
nafsu dan kembali kepada ajaran agama yang murni, Al-quran dan hadits www.amanah.or.id.2004.
Pada
awalnya al-Bushiry dikenal sebagai penyair istana [poet of court] yang
hidup dalam kehidupan lingkungan kekuasaan Dinasti Mamluk pada abad ke-13
Masehi. Qhasidah Burdah ditulis oleh al-Bushiry kira-kira antara tahun 1260-
1268 M www.alhambraproduction.com.2003 ketika ia berusia 50 tahun.
Al-bushiry
wafat pada usia 84 tahun, yaitu pada tahun 1296 M. Al-Bushiry menghabiskan
sebagian besar masa hidupnya dilingkungan istana kerajaan Mamluk di Mesir
sambil menulis puisi-puisi pujian untuk nabi dan para putra mahkota kerajaan
[Qaribullah: 2002].
Akan
tetapi, setelah itu, Al-Bushiry memutuskan untuk mempelajari dan mendalami
tasawuf melalui bimbingan dua orang sufi besar pada zamannya, yaitu Abu Hasan
As-Syadzily dan Abu Abbas al-Marsy. Setelah meninggalkan lingkungan istana
danmendalami tasawuf, wibawa al-Bushiry menjadi besar, orang-orang dari
berbagai penjuru negeri berdatangan kepadanya untuk mendengarkan bait-bait
puisi pujiannya kepada Nabi.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 5 KEMULIAAN ROSULULLAH DALAM BAIT AL-
BURDAH
Dalam
perspektif sufistik, beberapa bait Qhasidah Al-Burdah menceritakan tentang
kepribadian Nabi Muhammad SAW sebagai seorang tokoh sufi teladan yang harus
dijadikan panutan umat islam. Dalam perkembangan sufisme, baik sebelum atau
sesudah masa Nabi Muhammad SAW, banyak model tokoh sufi yang menawarkan konsep
sufisme yang beraneka ragam, terlepas dari ajaran- ajarannya yang selaras dan
tidak selaras dengan ajaran islam yang murni.
Al-
Quran menetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai uswah hasanah atau “ suri
teladan yang baik” bavi siapa saja. Sosoknya adalah teladan yang baik untuk segala hal. Siapa
saja yang meneladani pribadi Nabi Muhammad SAW, maka Al- Quran menjamin orang
itu berada pada jalan yang benar.
Dalam
beberapa bait sebelum lafaz “ Wa atsbatal wajdu....dst” menurut ilmu
stilistika arab (ilmu balaghah) termasuk pada kategori ilmu badi’ mujarrad, dimana
sang pengarang mengkomunikasikan dirinya melalui dialog yang terdapat dalam
bait- bait tersebut, mengingatkan dirinya sendiri sehingga melahirkan nilai
sufistik yang tinggi mengenai muhasabat al-nafs (introspeksi dan
evaluasi diri) sebagai upaya meningkatkan motivasi diri.
Berikut
adalah beberapa bait yang memaparkan pribadi Nabi Muhammad SAW sebagai “tokoh
sufi” teladan.
a.
Bersikap Sederhana
Dalam
perkembangan sufisme, banyak perilaku zuhud yang dipraktikan para tokoh. Tetapi
dari sejumlah perilaku zuhud tersebut, masih banyak yang menyimpang dari sunnah
Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW sangat mencintai akhirat, tetapi sikap
tersebut tidak lantas membuatnya meninggalkan urusan keduniaan.
Di zaman
Nabi SAW, pernah ada sejumlah sahabat yang melakukan tindakan zuhud berlebihan,
seperti tidak tidur semalaman karena sibuk ibadah, puasa setiap hari tanpa
berbuka, hidup membujang sepanjang hayat, dan lain-lain. Atas perilaku sahabat
ini, Nabi SAW justru memberi teguranbahwa ajaran islam tidak menghendaki
cara-cara berlebihan seperti itu. Zuhud bukan berarti menghilangkan kebutuhan
manusiawi, tetapi mengendalikannya sebik-baiknya.
Dalam
bait ke 29 sampai 34, sosok nabi sebagai pribadi sufi yang zuhud di tuturkan
sebagai berikut:
Bait-ke 29
Transliterasi : [ Zhalamtu sunnatan man
achyazh zhulama] (40) ila,
Anisy-takat qadamahudh dhurra min warami.
Terjemah Indonesia : aku menzalimi abadah sunnah orang (Nabi
SAW) yang menghidupkan kegelapan (malam), orang yang mengadukan deritanya (pada
malam gelap itu) sehingga kakinya menjadi bengkak.
Bait-ke 30
Transliterasi
: wa syadda min saghabin achsya-ahu wa thawa,
[
Tachtal hijarati kasychan muthrafal adami](41).
Terjemah Indonesia : Orang itu (Nabi SAW) mengikat perutnya
sebab lapar, hingga ia mengikatkan batu di perutnya yang berkulit halus itu
sekedar menahan laparnya.
Bait-ke 31
Transliterasi : Wa rawadathul jibalus
syummi min zahabin,
‘An nafsihi [fa’araha
ayyama syamami] (42).
Terjemah Indonesia : Hingga gunung-gunung yang tinggi itu
menawarkan diri untuk menjadi emas kepadanya (Nabi SAW). Tapi beliau tetap
menolak tawaran itu.
Bait-ke 32
Transliterasi : Wa [akadat zuhdahu
fiha dharuratuhu] (43),
Innadh dharurata la ta’du
‘alal ‘ishami.
Terjemah Indonesia :penderitaan-penderitaan itu bahkan
menguatkan kezuhudannya (Nabi SAW) di dunia ini, sedangkan
penderitaan-penderitaan itu baginya tidak akan mengurangi martabat dan
derajatnya yang luhur.
Bait-ke 33
Transliterasi : [Wa kaifa tad’u ilad dunya dharuratu man,
Lau la hu
lam takhrijud dunya minal ‘adami]
(44).
Terjemah Indonesia : Seperti apkah penderitaan orang itu bisa
menarik dunia ini. Seandainya orang itu tiada, pasti dunia ini tiada
diciptakan.
Bait-ke 34
Transliterasi : [Muhammadun sayyidul kaunaini
wats tsaqalain,
Wal
fariqaini min ‘urbin wa min ‘ajami] (45).
Terjemah Indonesia : Yaitu Nabi Muhammad SAW yang menguasai
(jadi pimpinan) dunia dan akhirat, pemimpinnya manusia dan jin, dan pemimpin
bangsa Arab dan ‘Ajam (non Arab).
Pada
bait ke-29, sebuah pengakuan terungkap dengan jujur dari sang pengarang, “ Zhalamtu
sunnatan man ahyazh zhalam” (aku menzhalimi ibadah sunnah orang (Nabi SAW)
yang menghidupkan kegelapan (malam). Pengarang mengakui ia telah berbuat zalim
karena telah meninggalkan jejak kezuhudan yang dipraktikan Nabi Muhammad SAW.
Di antara praktik zuhud Nabi SAW adalah senantiasa beribadah di malam hari,
disaat manusia terbuai dalam tidur yang lelap. Demikian khusuknya Nabi
melakukan shalt malam, hingga beliau tak memperdulikan kakinya yang bengkak
karena terlalu lama berdiri shalat. Malam adalah salah satu waktu yang utama
dan mustajab (dikabulkan do’a). Di malam hari, Allah SWT begitu sangat dekat
dengan hambanya yang menunaikan salat tahajud sehingga setiap do’a yang dipanjatkan
akan terkabulkan. Inilah contoh zuhud yang di praktikan Nabi SAW.
Dalam bait ke-30, disebutkan contoh
prilaku zuhud lainnya yang dilakukan oleh Nabi SAW “ Tahtal hijarati kasyhan
muthrafal adami” ( ia mengikatkan batu diperutnya yang berkulit halus itu
sekadar menahan laparnya). Menahan lapar merupakan salah satu metode zuhud.
Lapar lawan dari kenyang. Bila makan terlalu kenyang, otak dan hati akan tidur,
dan syahwat akan bangkit.
Pusat
syahwat berada dari perut. Menahan lapar berarti usaha mengendalikan syahwat,
dan itu berarti akan memperluas kesempatan bagi otak untuk berfikir dan membuka
ruang bagi hati untuk merasa. Nabi SAW rela melilitkan batu di perutnya untuk
menahan perihnya rasa lapar, sehingga kelaparan itu tidak mengganggu ibadahnya
kepada Allah SWT.
Pada
bait-ke 31 sampai baik ke-34, terkandung makna yang menjelaskan totalitas zuhud
dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. [fa-araha ayyama syamami] (beliau tetap
menolak tawaran itu), [akkadat zuhdahu fiha dharuratuhu]
(Penderitaan-penderitaan itu bahkan menguatkan kezuhudannya (Nabi SAW), [Wa
kaifa tad’u ilad dunya dharuratu man, lau la hu lam takhrujid dunya minal
‘adami] (seperti apakah penderitaan orang itu bisa menarik dunia ini.
Seandainya orang itu tiada, pasti dunia ini tiada di ciptakan), dan [muhammadun
sayyidul kaunaini wats tsaqalain, Wal fariqaini min ‘urbin wa min ‘ajami]
(Yaitu Nabi Muhammad SAW yang menguasai (jadi pimpinan) dunia dan akhirat,
pemimpinnya manusia dan jin, dan pemimpin bangsa Arab dan ‘ajam (non Arab).
Keempat
bait ini menjelaskan tingkat zuhud Nabi SAW yang sangat tinggi. Tingkat zuhud
tidak dapat dikatakan sudah sangat tinggi, kecuali bila telah melampaui ujian
yang maha berat. Ujian yang di berikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah berupa
tawaran seisi alam dunia yang nilai materinya tentu sangat tinggi, ditambah
status beliau yang melebihi semua makhluk sehingga dapat mengendalikan dunia
mereka.
Tetapi Nabi SAW tetap menolaknya, dia tidak terpikat
dengan keindahan dan kekayaan dunia. Sementara statusnya sebagai makhluk
terbaik di dunia dan di akhirat tak membuatnya lupa diri. Nabi SAW tetap
memilih sikap zuhud, meninggalkan hal-hal yang bernilai duniawi berupa harta
dan kekuasaan, serta rela menempuh penderitaan dan pengorbanan sebagai bekal di
akhirat. Ini adalah contoh terbaik bagaimana sikap zuhud seharusnya dilakukan.
b. Pribadi Paripurna
Taqwa berasal dari kata
waqa-yaqy-wiqayatan yang berarti “ menjaga, melindungi, memperbaiki, takut,
waspada, dan berhati-hati”. Dalam konteks sufistik, taqwa berarti “upaya untuk
mematuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya”.
Sufi adalah orang yang
menyadari status dirinya sebagai hamba Allah SWT. Perintah dan larangan Allah
SWT terhadap semua makhluk bertujuan agar tercipta keteraturan dan keharmonisan
hidup di dunia dan di akhirat. Dengan ketaqwaan, keteraturan hidup tidak hanya
tercipta dalam tataran individual,
tetapi juga dalam dimensi sosial yang lebih luas.
Nilai sufistik tentang
taqwa dan terdapat dalam bait berikut:
Bait ke-35
Transliterasi :
[Nabiyyatul amirun nahi fa la ahadun,
Abarra
fi qauli la minhu wa la na’ami]
(46).
Terjemah Indonesia :
Nabi kita (Nabi SAW) yang selalu memerintahkan (kebaikan) dan selalu mencegah
(dari kemungkaran). Maka tiada seorangpun yang lebih baik dalam perkataan dan
perbuatan dibanding dengan beliau.
Pada bait ke-35, taqwa
terkandung dalam kalimat [Nabiyyunal amirun nahi fa la ahadun, Abbarrafi
qawli la minhu wa la na amin] (Nabi kita)
(Muhammad SAW) yang selalu memerintahkan (kebaikan) dan selalu mencegah
(dari kemungkaran). Makatiada seorang pun yang lebih baik dalam perkataan dan
perbuatan dibanding dengan beliau).
Takwa merupakan sikap yang
senantiasa diperintahkan oleh Nabi SAW kepada umatnya. Nabi sendiri merupakan
sosok yang telah memperlihatkan nilai ketaqwaan dalam tingkatnya yang
paripurna. Namun yang paling disesalkan, ada sebagian umatnya yang terlalu
berlebihan dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT, sehingga perbuatanya itu
melanggar batas-batas fitrah manusia. Padahal, ketaqwaan yang diperaktikan Nabi
SAW adalah ketaatan yang tidak melewati ambang batas kewajaran sebagai manusia.
c.
Sebagai Kekasih Allah
Nabi Muhammad SAW mendapatkan posisi terhormat
sebagai habib (kekasih) Allaoh dan umatnya. Rasa cinta umat islam kepada
beliau bersumber dari karakter nabi SAW yang selalu menebarkan cinta kasih
kepada siapapun, baik kepad Allah SWT, sesama manusia, maupun makhluk lainnya.
Status habib (kekasih) merupakn pantulan (feedback) dari kesempurnaan
akhlak Nabi SAW.
Seorang sufi sejati, tidak
semata mementingkan nilai sufistik secara individual, tetapi juga menyertainya
dengan nilai sufistik sosial.
Bait ke-36
Transliterasi :
[Huwaal habib ul ladzi turja syafa’atuhu,
Abarra
fi qauli la minhu wa la na’ami]
(47).
Terjemah Indonesia :
beliau adalah kekasih yang selalu dinanti dan diharapkan syafa’atnya
(pertolongannya) dari segala malapetaka yang menimpa.
Pada bait ke-36, Nabi SAW
digambarkan sebagai [huwal habib] (beliau adalah kekasih), artinya
sebagai pribadi yang selalu dicintai. Selama hidupnya, Nabi SAW selalu
mengasihi sesama manusia, bahkan terhadap musuhnya sekalipun. Dalam sebuah
hadits dikisahkan, Nabi SAW pernah mengunjungi orang yang sakit, padahal dia
sebelumnya selalu menyakiti nabi SAW. Rasa cinta kasih beliau telah menghapus
segenap rasa dendam walaupun terhadap orang yang pernah menzalimi bbeliau.
Bahkan dalam keadaan perang sekalipun, sebagai panglima perang tertinggi, Nabi
SAW tetap memerintahkan pasukannya untuk tidak menyakiti musuh yang telah kalah
menyerah, tidak mengusik orang-orang kafir yang tidak ikut berperang, serta
tidak menganiaya anak-anak dan wanita kafir. Bahkan Nabi menyerukan agar tidak
merusak infrastruktur sosial ekonomi orang kafir seperti lahan perkebunan,
pepohonan dan lain-lain. Hal ini mencerminkan pribadi Nabi sebagai orang yang
selalu mencintai dan dicintai oleh Allah dan umatnya.
d.
Sebagai Penjabar Al-Quran
Yang
dimaksud dengan hablillah (tali Allah) tiada lain adalah Al-Quran. Jadi,
konsep i’tisham bi hablillah berarti memegang teguh ajaran-ajaran Allah
yang tterdapat di dalam Al-Quran. Seorang sufi sejati memiliki sikap dan
tingkah laku yang tidak keluar jalur dari jalan Allah SWT. Agar berada di jalan
Allah, maka umat Islam tinggal mengikuti apa yang telah secara konkrit
dilakukan oleh Nabi SAW. I’tisham bi hablillah adalah spirit untuk
memberi solusi terhadap instabilitas kehidupan manusia yang jauh dari tuntunan
illahi.
Nilai sufistik tentang I’tisham bi hablillah
terdapat dalam bait berikut:
Bait ke-37
Transliterasi
: [Da’a ilallahi fal
mustamsikuna bih,
Mustamsikuna
bi hablin ghaira munfashimi]
(48).
Terjemah
Indonesia : Beliau Nabi SAW mengajak
kepada (agama) Allah dan beliau berpegang teguh padanya, (bagaikan) berpegang
teguh pada tali (ikatan) yang tak putus.
Dalam
bait tersebut, terdapat lafadz mustamsikuna bihi yang berarti
orang-orang yang berpegang teguh terhadap agama Allah SWT, yakni islam.
Rasulullas SAW di utus oleh Allah SWT ke muka bumi ini untuk mengajak umat
manusia berpegang teguh kepada agama Allah SWT, yaitu islam. Barang siapa yang
berpegang teguh kepada islam; yakni menjalankan segala perintah nya dan
menjauhi segala larangannya, berarti dia memiliki pegangan yang kuat dan sulit
untuk dilepaskan.
Sebagai
teladan terbaik, Nabi Muhammad SAW mengajak seluruh umat manusia, terlebih
kepada umatnya, untuk senantiasa melakukan kebaikan dan menebarkan perdamaian.
Bila seruannya itu di tunaikan oleh umatnya, maka ketentraman dan keberhasilan
dalam hiduppun akan tercapai. Demikian pula beliau selalu mencegah dan melarang
berbuat kerusakan, baik kerusakan yang akan berdampak di dunia ini maupun yang
akan terjadi di akhirat kelak. Kekuasaan umumnya selalu mendorong manusia untuk
bersikap sombong, dan angkuh. Namun tidak demikian halnya dengan Nabi, meskipun
memiliki kekuasaan yang sangat luas, beliau selalu menunjukan sikap rendah hati
yang ramah terhadap sesama manusia.
e.
Pandai Berserah Diri
Tawakkal
berasal dari kata tawakkala- yatawakkalu- tawakkulan yang berarti “
mewakilkan atau menyerahkan sesuatu urusan kepada selain dirinya”. Dalam ruang
lingkup ajaran sufistik, tawakkal berarti “ menyerahkan segenap urusan
pribadinya kepada Allah SWT setelah melakukan usaha yang optimal (ikhtiar)”.
Setelah
berikhtiar, seorang sufi sejati selalu berserah diri kepada Allah SWT. Sufi
sejati selalu byakin bahwa hanya Allah-lah yang akan menentukan hasil akhir
dari semua usaha yang telah ia curahkan. Tawakkal merupakan rangkaian
akhir dari ikhtiar (optimalisasi diri) dan merupakan sebuahh sikap husnuzhan
(berbaik sangka) terhadap Allah SWT.
Pribabi
Nabi SAW yang tawakkal kepada Allah secara implisit terdapat dalam bait ke-77:
Bait ke-77
Transliterasi
: [ Fash-shidqu fil
ghari wash-shidqu lam yari,
Wa
hum yaquluna ma bil ghari min arami] (49).
Terjemah
Indonesia : adapun orang yang benar
(Nabi SAW) dan yang membenarkan (Abu Bakar AS) di dalam gua tiada pergi, tetapi
orang-orang kafir berkata bahwa didalam gua itu tiada seorang pun yang tinggal.
Dalam
bait tersebut digambarkan sekelumit peristiwa yang terjadi saat Nabi SAW hijrah
ke Yatsrib (Madinah), dittemani Abu Bakar As-Shiddiq. Pada saat hijrah, status
Nabi Muhammad SAW adalah “ buronan” kaum kafir Quraisy. Para pemuka Quraisy
menyerukan untuk menangkap nabi, hidup atau mati. Ini merupakan bentuk
konspirasi orang kafir untuk menghapus ajaran Islam dan pimpinannya.
Konspirasi
yang melibatkan semua kabillah Mekkah ini tentu saja menyulitkan nabi untuk
dapat selamat dari kejaran mereka. Namun, Nabi Muhammad SAW tetap berikhtiar
untuk bisa keluar dari rumahnya untuk berhijrah. Dengan sebuah strategi ikhtiar
yang penuh perhittungan, bersama Abu Bakar, nabi hijrah ke Madinah dengan
menempuh jalur yang tidak biasa di tempuh ole suku Quraisy.
Dalam
perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk tinggal sebentar di gua Tsur
yang terletak di selatan Mekkah. Ini dilakukan untuk mengecoh perhatian mereka.
Tetapi ikhtiar ini pun akhirnya terbaca oleh suku Quraisy , sehingga mereka
mengejar Nabi Muhammad SAW sampai ke gua Tsur. Saat ada beberapa orang Quraisy
yang tiba menghampiri mulut gua tersebut, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar pun
berserah diri kepada Allah SWt akan nasib hidup mereka berdua dengan
mengatakan: “ ...innallaha ma’ana (sesungguhnya tuhan bersama
kita).
Kemudian
Allah SWT pun mematahkan logika orang kafir dengan menghadirkan laba-laba yang
sedang tenang diam di jaring-jaring yang di buatnya, dan burung merpati yang
sedang diam di sarangnya dengan tenang di
mulut gua tersebut. Dengan kehadiran dua makhluk tersebut, orang kafir
yang berada di mulut gua pun terkecoh, mereka berfikir tidak mungkin nabi
Muhammad SAW dan Abu bakar ada di dalam gua.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian-uraian di atas dapat di
tarik kesimpulan bahwa Rasulullah SAW mepunyai 5 kemulian, yaitu :
1. Bersikap sederhana, sifat
tersebut terdapat pada bait ke 29 sampai 34,
sosok nabi sebagai pribadi sufi yang zuhud di tuturkan sebagai berikut:
Bait-ke 29
Transliterasi : [ Zhalamtu sunnatan man
achyazh zhulama] (40) ila,
Anisy-takat qadamahudh dhurra min warami.
Terjemah Indonesia : aku menzalimi abadah sunnah orang (Nabi
SAW) yang menghidupkan kegelapan (malam), orang yang mengadukan deritanya (pada
malam gelap itu) sehingga kakinya menjadi bengkak.
Bait-ke 30
Transliterasi
: wa syadda min saghabin achsya-ahu wa thawa,
[
Tachtal hijarati kasychan muthrafal adami](41).
Terjemah Indonesia : Orang itu (Nabi SAW) mengikat perutnya
sebab lapar, hingga ia mengikatkan batu di perutnya yang berkulit halus itu sekedar
menahan laparnya.
Bait-ke 31
Transliterasi : Wa rawadathul jibalus
syummi min zahabin,
‘An nafsihi [fa’araha
ayyama syamami] (42).
Terjemah Indonesia : Hingga gunung-gunung yang tinggi itu
menawarkan diri untuk menjadi emas kepadanya (Nabi SAW). Tapi beliau tetap
menolak tawaran itu.
Bait-ke 32
Transliterasi : Wa [akadat zuhdahu
fiha dharuratuhu] (43),
Innadh dharurata la ta’du
‘alal ‘ishami.
Terjemah Indonesia :penderitaan-penderitaan itu bahkan
menguatkan kezuhudannya (Nabi SAW) di dunia ini, sedangkan
penderitaan-penderitaan itu baginya tidak akan mengurangi martabat dan
derajatnya yang luhur.
Bait-ke 33
Transliterasi : [Wa kaifa tad’u ilad dunya dharuratu man,
Lau la hu
lam takhrijud dunya minal ‘adami]
(44).
Terjemah Indonesia : Seperti apkah penderitaan orang itu bisa
menarik dunia ini. Seandainya orang itu tiada, pasti dunia ini tiada
diciptakan.
Bait-ke 34
Transliterasi : [Muhammadun sayyidul
kaunaini wats tsaqalain,
Wal
fariqaini min ‘urbin wa min ‘ajami] (45).
Terjemah Indonesia : Yaitu Nabi Muhammad SAW yang menguasai
(jadi pimpinan) dunia dan akhirat, pemimpinnya manusia dan jin, dan pemimpin
bangsa Arab dan ‘Ajam (non Arab).
2. Pribadi Paripurna, sifat
tersebut terdapat pada bait ke 35 yang menceritakan tentang taqwa dan terdapat
dalam bait berikut:
Bait ke-35
Transliterasi :
[Nabiyyatul amirun nahi fa la ahadun,
Abarra
fi qauli la minhu wa la na’ami]
(46).
Terjemah Indonesia : Nabi kita (Nabi SAW) yang selalu
memerintahkan (kebaikan) dan selalu mencegah (dari kemungkaran). Maka tiada
seorangpun yang lebih baik dalam perkataan dan perbuatan dibanding dengan
beliau.
3. Sebagai Kekasih Allah SWT,
hal ini terdapat pada bait ke 36, sebagai berikut:
Bait ke-36
Transliterasi :
[Huwaal habib ul ladzi turja syafa’atuhu,
Abarra
fi qauli la minhu wa la na’ami]
(47).
Terjemah Indonesia :
beliau adalah kekasih yang selalu dinanti dan diharapkan syafa’atnya
(pertolongannya) dari segala malapetaka yang menimpa.
4. Sebagai penjabar Al-Quran,
hal ini terdapat pada bait ke 37, Nilai sufistik tentang I’tisham bi
hablillah terdapat dalam bait berikut:
Bait ke-37
Transliterasi
: [Da’a ilallahi fal
mustamsikuna bih,
Mustamsikuna
bi hablin ghaira munfashimi]
(48).
Terjemah
Indonesia : Beliau Nabi SAW mengajak
kepada (agama) Allah dan beliau berpegang teguh padanya, (bagaikan) berpegang
teguh pada tali (ikatan) yang tak putus.
5. Pandai berserah diri, hal ini
terdapat pada bait ke 77, Pribabi Nabi SAW yang tawakkal kepada Allah secara
implisit terdapat dalam bait berikut:
Bait ke-77
Transliterasi
: [ Fash-shidqu fil
ghari wash-shidqu lam yari,
Wa
hum yaquluna ma bil ghari min arami] (49).
Terjemah
Indonesia : adapun orang yang benar
(Nabi SAW) dan yang membenarkan (Abu Bakar AS) di dalam gua tiada pergi, tetapi
orang-orang kafir berkata bahwa didalam gua itu tiada seorang pun yang tinggal.
B. Saran
1) Dengan pemaparan yang telah di jelaskan di atas,
hendaknya para pembaca untuk mencontoh pribadi Rasulullah SAW, dengan selalu
mengingatnya dan memcakan shalawat setiap waktu.
2) Janganlah pembaca merasa puas dengan hanya membaca
tulisan ini, karena masih banyak permasalahan yang belum termuat dalam paper
ini.
3) Sebaiknya pembaca meneliti lebih jauh lagi pembahasan ini
dengan membaca refarensi-refensi yang lain yang lebih lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Ainusyamsi, Fadlil Yani, 2011, Terapi Musik
Sufistik Menyerap Energi Positif Shalawat Burdah: Ciamis, PT Semesta Rakyat
Merdeka.
Al- Hufy, Ahmad Muhammad, 1995, Akhlak Nabi
Muhammad SAW, Keluhuran Dan Kemuliaannya: Bandung, Gema Risalah Press.
Dilahirkan
di Ciamis, 28 Juli 1994 dengan nama Bayu Alif Ahmad Yasin Hanifatulloh dari
pasangan Bapak Asep Parhanil Ibad, S. Ag dan Ibu Nurfatihah. Penulis memulai kehidupannya di lingkungan pedesaan yang kental
dengan suasana agamis. Sejak kecil menyukai kegiatan yang berhubungan dengan
olahraga.
Adapun
riwayat pendidikannya :
- Taman Kanak- Kanak Al- Ikhlas, Bandung (2000)
- Sekolah Dasar Negeri Pelita 2, Bandung
(2000-2006)
- Sekolah Menengah Pertama Plus Al-Aqsha,
Sumedang ( 2006-2009)
- Madrasah Aliyah Negri Darussalam, Ciamis (2009-2012)
- Institut Agama Islam
Darussalam, Ciamis (2012-sekarang)
Adapun riwayat
keorganisasiannya :
- Brigade Al-Ismul Adzam Pondok Pesantren
Darussalam
- Bagian bahasa MALTA periode 2010- 2011
- Anggota Darussalam football Club (DFC)
